Di bawah sorot lampu, sekumpulan putra putri dibalut pakaian tradisional Bali, berdiri dengan senyum sumringah di depan Tugu Singa Ambara Raja. Berbekal kepercayaan diri dan hasil kerja keras, nyanyian merdu dan koreografi menarik berhasil mereka suguhkan dan  memukau para tamu undangan yang hadir dalam acara kali ini.

Pembukaan Buleleng Festival ke-4 di depan Tugu Singa Ambara Raja (2/8), tak jauh berbeda dengan tahun lalu. Berbagai kesenian khas Bali Utara ditampilkan dalam acara rutin Kabupaten Buleleng ini. Mulai dari tarian tradisional, paduan suara, hingga penampilan grup band lokal turut serta memeriahkan pembukaan Buleleng Festival. Penampilan pertama yang memeriahkan Pembukaan Buleleng Festival tahun 2016 kali ini adalah tim paduan suara SMA Negeri Bali Mandara yang dikenal dengan nama Gema Nada Mandara.

Gema Nada Mandara tampil dengan membawakan 6 lagu, yakni Buleleng Tersenyum, Semut-Semut Api, Enggung, Taksu, Untuk Bumi Kita, dan Yuk ke Buleleng. Meskipun persiapannya hanya 7 hari, mereka mampu memukau para tamu undangan dan penonton yang memenuhi ruas Jalan Veteran sore itu. “Persiapannya hanya seminggu, itupun benar-benar dari awal, dari mengaransemen lagu”, ungkap Pera Ariasih, salah satu anggota Gema Nada Mandara. Walaupun dengan persiapan yang tak terlalu panjang, mereka tetap tampil dengan apik dan penuh percaya diri, meskipun ada sedikit kesalahan di tengah lagu. “Ada sedikit kesalahan tadi, namun saya tak membiarkan kesalahan itu mempengaruhi saya di lagu-lagu selanjutnya”, Ujar Asri Suwandesi, pemegang suara sopran dalam tim ini.

Berdiri sejak tahun 2012, dengan pembina Made Beny Prince, A.Md.Kep, penampilan Gema Nada Mandara mendapat sambutan dan apresiasi yang luar biasa dari para pengunjung yang hadir pada Buleleng Festival. Memasuki lagu kedua, yakni Semut-Semut Api, penonton mulai berdatangan, semakin memenuhi jalanan yang sudah sesak akan pengunjung. “Penampilannya bagus sekali, saya suka aransemen lagu mereka”, ujar salah satu pengunjung yang hadir dalam acara itu. Nama Gema Nada Mandara sendiri dicetuskan oleh pembinanya, yang akrab disapa dengan Mr. Beny. Gema Nada Mandara dapat diartikan sebagai gabungan nada yang akan selalu menggema. “Saya membuat nama ini, sejak pertama kali tim paduan suara ini terbentuk”, ungkap Mr. Beny seraya tersenyum.

Berkat kekompakan dan kerja keras mereka, sejak pertama kali terbentuk, Gema Nada Mandara telah menjadi tim paduan suara yang aktif dan berprestasi dalam segala kesempatan. Meskipun kegiatan di SMA Negeri Bali Mandara begitu padat, mereka tetap mampu menunjukkan prestasi dan eksistensinya. “Meskipun kadang sulit menyatukan kami semua, karena masalah waktu, tapi kami selalu berusaha untuk dapat mempersembahkan yang terbaik”, ujar Angelita, keyboardist Gema Nada Mandara. Tim paduan suara ini juga telah mampu mempersatukan anggotanya bagaikan sebuah keluarga besar. “Dari sinilah saya banyak mendapat teman baru yang lebih dekat, semoga Gema Nada Mandara terus ada dan semakin maju dan berkembang kedepannya”, ujar Pegy Wilantari, sang conductor.

Perkembangan Gema Nada Mandara terus terlihat hingga sekarang. Mulai dari anggota yang terus bertambah, hingga lagu-lagu dengan aransemen baru yang unik karya mereka. Dengan perkembangan yang begitu pesat, Mr. Beny Prince, sebagai pembina berharap Gema Nada Mandara selalu ada dan terus menunjukkan eksistensinya. “Sesuai dengan namanya, saya harap mereka selalu menggema di berbagai kesempatan”, ungkapnya di akhir penampilan Gema Nada Mandara di Buleleng Festival.(pay)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *