SMAN Bali Mandara kembali mengukir jejak dalam pelestarian budaya dan jati diri lokal dengan sukses menyelenggarakan Peringatan Bulan Bahasa Bali VIII Warsa 2026. Berlangsung meriah di Hall Basudewa, Jumat (13/2), kegiatan ini bukan sekadar perayaan, melainkan sebuah manifestasi “Atma Kerthi – Udiana Purnaning Jiwa,” yang berarti “Bahasa Bali merupakan altar pemuliaan Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali sebagai teman membangun jiwa yang mahasempurna.”
Kegiatan tahunan yang melibatkan seluruh siswa kelas X, XI, dan XII ini menjadi panggung untuk menampilkan keberagaman budaya Bali. Pelaksanaan Bulan Bahasa Bali VIII ini secara khusus memenuhi Surat Edaran (SE) Gubernur Bali, dengan menggelar berbagai kegiatan utama: sesolahan (seni pertunjukan), widyatula (diskusi ilmiah), utsawa (perlombaan), dan wimbakara (lomba). Ini merupakan komitmen SMAN Bali Mandara dalam mengimplementasikan kebijakan pemajuan kebudayaan Bali secara konkret.
Lebih dari itu, pelaksanaan acara ini juga berfungsi sebagai bentuk pameran hasil proyek kokurikuler siswa, menunjukkan kreativitas dan pemahaman mereka terhadap budaya lokal melalui karya nyata. Hal ini sejalan dengan upaya sekolah untuk mengintegrasikan pembelajaran budaya dalam kurikulum.
Unsur khas lainnya adalah penguatan kemitraan pendidikan melalui “Kelas Orang Tua,” sebuah wadah interaktif yang melibatkan wali murid dalam dialog dan kolaborasi. Inisiatif ini tidak hanya berhenti di situ, SMAN Bali Mandara juga menjalin kemitraan strategis melalui Memorandum of Understanding (MoU) terkait Adiwiyata (program sekolah peduli lingkungan), Literasi oleh Pustaka Widya Mandara (mendukung pengembangan minat baca), dan akses studi lanjut siswa, membuka pintu peluang lebih luas bagi peserta didik.
Dalam sambutannya, panitia pelaksana menekankan pentingnya peran bahasa ibu sebagai sarana transmisi nilai-nilai etika, kearifan lokal, dan pengetahuan luhur warisan leluhur Bali. “Kami mengajak generasi muda untuk tidak pernah ragu dan terus menggunakan Bahasa Bali dalam kehidupan sehari-hari, karena melestarikan bahasa berarti menjaga keberlangsungan sastra dan budaya kita agar tidak tergerus zaman,” ujar Putu Rista Wahyuni, S.Pd selaku Ketua Panitia.


